Berita Bethel
Penulis: Pram (03/07/2021)

Berpikir Positif

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (Kejadian 45:5). Seringkali sebagai orang Kristen dalam menghadapi masalah kita bersungut-sungut atau mempertanyakan masalah, daripada bersyukur. Sikap kita lebih dominan pasrah dan pesimis daripada yakin bertahan dan optimis. Mengapa hal ini  terjadi ?. 

Padahal dalam 1 Korintus  10:13 dikatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak akan melampaui kekuatan kita. Jadi di mana letak permasalahannya, sehingga kita cenderung untuk pesimis ketimbang optimis ?. 

Kita patut belajar dari kehidupan Yusuf, karena permasalahan yang dia alami bukanlah hal yang sepele. Yusuf adalah anak yang dibuang saudaranya tetapi kemudian menjadi pemimpin. Yusuf adalah orang Israel pertama yang menjadi petinggi di negeri lain. Walaupun ia mengalami penolakan, fitnah, penjara dan bahkan dilupakan tetapi pada waktunya ia menjadi penyelamat bagi bangsanya.

Mengapa Yusuf dapat melakukan hal tersebut, dia dapat melakukannya karena Yusuf mengerti dan mengenal rencana Tuhan dalam hidupnya. Yusuf memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Dalam  ayat ke-5, permasalahan yang Yusuf  alami adalah misi yang harus dilalui, karena Allah ingin memakainya untuk menjadi pemelihara kehidupan Israel.

Tidak seperti Yusuf, kita seringkali tidak melihat rencana Allah dalam hidup kita, sehingga ketika kita mengalami suatu kegagalan kita bersungut-sungut dan mulai menyalahkan  keadaan seolah-olah tidak ada jalan keluar. 

Ketika kita dalam menghadapi masalah, karena kita tidak tahu rencana Tuhan, maka kita lari tidak mau menghadapi masalah tersebut. Ini  adalah orang Kristen yang buta. (Mat. 15:14) orang Farisi pintar sekali akan hukum Taurat dan nubuat, tetapi mereka tidak mengerti rencana Allah melalui  diri Yesus, sehingga Yesus menyebut mereka orang buta. Mengetahui rencana Allah  itu penting, karena rencana Allah adalah tujuan hidup kita. Tuhan Yesus pun pernah marah kepada Petrus karena dia tidak mengetahui rencana Allah terhadap  Yesus (Mat. 16:23-24). 

Paulus dalam Kolose 3:2 mengatakan agar kita memikirkan perkara di atas, bukan perkara di bumi. Apa itu perkara di atas ?,  dalam surat Filipi 4:8, Paulus menjabarkannya. Sampai sini kita bisa mengerti bahwa untuk mengetahui rencana Allah kita memerlukan pikiran yang positif.

Yusuf bisa mengetahui rencana Allah dalam hidupnya karena ia berpikir positif. Ia percaya  bahwa Allah Israel menyer tai hidupnya dimanapun bahkan ketika ia di negeri asing sekalipun. Cara berpikir positifnya yang akhirnya membuat ia bertahan untuk tidak menyimpan kepahitan terhadap saudaranya, tidak menuruti kemauan istri potifar, tetap berkarya dalam penjara hingga akhirnya dipercaya oleh kepala penjara. 

Yusuf percaya hingga akhirnya ia berpikir positif. Hanya orang yang beriman yang dapat berpikir positif. Hanya orang yang mengakui bahwa Allah bekerja untuk kebaikan hidupnya yang dapat berpikir positif. Tetapi sebaliknya,  orang yang cenderung berpikir negative  adalah orang yang tidak mengakui Allah dalam hidupnya (seperti anak yang tidak mempercayai orang tuanya atau sebaliknya) Roma 1:28-32.

Jadi tetaplah berpikir positif karena kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan  kebaikan bagi mereka yang mengasihi  Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah (Rm. 8:28). Pengenalan  akan Allah membawa kita pada rasa percaya, percaya  membuat kita berpikir positif sampai  rencana  Allah dinyatakan. [Sumber : R.A.B - Pdm. Hiruniko Ruben,  M.Th].